![]() |
| Dolly pada tahun 1982 |
Siapa tak kenal dengan kawasan Dolly yang berada disudut kota Surabaya, Jawa Timur. Konon, Dolly di lokalisasi pelacuran disebut-sebut yang terbesar se-Asia Tenggara. Betapa tidak, sedikitnya 9.000 lebih pelacur numplek jadi satu di kawasan tersebut. Pria hidung belang kalangan atas hingga bawah tak sulit ditemukan di kawasan Dolly. Tidak hanya penduduk lokal, wisatawan asing pun tak jarang datang ke sini sekadar untuk memuaskan birahi.
Kendati begitu, benar atau tidak, belum ada catatan pembanding resmi dengan kompleks lokalisasi di negeri lain, misalnya, kawasan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura.
Lokalisasi ini hampir menyelimuti seluruh jalan di kawasan itu. Bahkan, Dolly lebih dikenal ketimbang kota Surabaya sendiri. Para bule yang sering mangkal di Bali pun kerap menyeberang ke Surabaya hanya untuk 'menjajal' wanita-wanita malam yang dijajakan di Dolly. Bicara soal Dolly, tak banyak yang tahu tentang bagaimana sejarah lokalisasi ini berdiri hingga bisa besar dan terkenal seperti sekarang.
Sejarah mencatat, kawasan Dolly rupanya dahulu adalah tempat pemakaman warga Tionghoa pada zaman penjajahan Belanda. Namun pemakaman ini disulap oleh seorang Noni Belanda bernama Dolly sebagai tempat prostitusi khusus bagi para tentara negeri kincir angin itu. Bahkan keturunan tante Dolly juga disebut-sebut masih ada hingga kini malah tidak meneruskan bisnis esek-esek ini.
Sebagai pencetus komplek lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya ini maka perempuan dengan sebutan tante Dolly itu kemudian dikenal sebagai tokoh melegenda tentang asal muasal terbentuknya gang lokalisasi prostitusi tersebut.
Dalam beberapa kisah tutur masyarakat Surabaya, awal pendiriannya, tante Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial. Melayani dan memuaskan syahwat para tentara Belanda. Seiring berjalannya waktu, ternyata pelayanan para gadis asuhan tante Dolly tersebut mampu menarik perhatian para tentara untuk datang kembali.
Dalam perkembangannya, gang Dolly semakin dikenal masyarakat luas. Tidak hanya prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya juga ikut menikmati layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK.
Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Terdapat lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe dangdut dan panti pijat plus yang berjejer rapi. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo, ahli pijat siap menawarkan layanan kenikmatan kepada para pengunjung.
Tidak hanya itu, Dolly juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir, dan calo prostitusi. Semua saling berkait menjalin sebuah simbiosis mutualisme.
Kisah lain tentang Dolly juga pernah ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dalam buku berjudul "Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks Pelacuran Dolly" yang diterbitkan Grafiti Pers, April 1982. Dalam buku itu disebutkan dulu kawasan Dolly merupakan makam Tionghoa, meliputi wilayah Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede.
Baru sekitar tahun 1966 daerah itu diserbu pendatang dengan menghancurkan bangunan-bangunan makam. Makam China itu tertutup bagi jenazah baru, dan kerangka lama harus dipindah oleh ahli warisnya. Ini mengundang orang mendapatkan tanah bekas makam itu, baik dengan membongkar bangunan makam, menggali kerangka jenazah, atau cukup meratakan saja.
S.etahun kemudian, 1967, muncul seorang pelacur wanita bernama Dolly Khavit di kawasan makam Tionghua tersebut. Dia kemudian menikah dengan pelaut Belanda, pendiri rumah pelacuran pertama di jalan yang sekarang bernama Kupang Gunung Timur I. Wisma miliknya antara lain bernama T, Sul, NM, dan MR. Tiga di antara empat wisma itu disewakan pada orang lain. Demikian asal muasal nama Dolly.
Dolly semakin berkembang pada era tahun 1968 dan 1969. Wisma-wisma yang didirikan di sana semakin banyak. Adapun persebarannya dimulai dari sisi jalan sebelah barat, lalu meluas ke timur hingga mencapai sebagian Jalan Jarak.
B. Gang Dolli di tutup sebagai tempat prostitusi
Tempat prostitusi di Gang Dolly ditutup oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Tri Rismaharini memutuskan, semua lokalisasi di Kota Pahlawan, termasuk Gang Dolly dan Jarak, menyalahi Perda Nomor 7 tahun 1999, tentang larangan bangunan dijadikan tempat asusila Tri Rismaharini menjadi salah satu aktor utama yang ingin jika tempat-tempat lokalisasi di kawasan Surabaya ditutup. Alasannya, lokalisasi selalu menjadi muara kasus human trafficking yang kian menjadi akhir-akhir ini. Selain itu, ia juga ingin mengajak warganya untuk mencari rizki halal tanpa harus menjual tubuhnya di tempat lokalisasi. Untuk itu, dia berusaha mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan dengan memberdayakannya sesuai skil mereka masing-masing. Alasan yang ketiga, menyangkut masalah pendidikan moral anak-anak hingga usia remaja yang berada di sekitar lokalisasi. Mau tidak mau, geliat prostitusi akan berdampak pada psikologis anak-anak di sekitar lokalisasi. Dalam setiap kesempatan menyangkut masalah penutupan lokalisasi, Risma selalu mengungkapkan, dia pernah menemui PSK yang sudah berumur, tapi yang menjadi langganannya adalah anak-anak sekolah. miris. Hingga pada akhirnya pada tahun 2014, lokalisasi gang Dolly resmi ditutup oeleh Walikota Surabaya Tri Risma Harini. Penutupan ini menjadikan perekonomian masyarakat eks Dolly tidak dapat berjalan lancar, menyebabkan perubahan sosial. Penelitian ini menggunakan paradigma naturalistik atau paradigma interpretatif yaitu bagian dari paradigma non positivistik, pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Teknik penentuan informan menggunakan accidental dan snowball. Data diperoleh melalui wawancara mendalam. Lokasi penelitian ini di Gang Dolly Putat Jaya Surabaya.
Selain itu, kehilangan pekerjaan dan pendapatan bukan hanya bagi para PSK, tetapi juga para germo, pemilik rumah sewa, pedagang, tukang parkir, penjaga keamanan, dan sebagainya yang jumlahnya ribuan. Jika mereka adalah tulang punggung keluarga dengan tanggungan rata-rata tiga orang, maka ada sejumlah tiga kali lipat lagi orang yang akan dirugikan. Sebuah angka yang tidak sedikit di tengah sulitnya menciptakan lapangan kerja dan susahnya perekonomian.
Dalam penelitian disimpulkan, jika lokalisasi gang dolly ditutup. Maka akan terjadi perubahan sosial oleh masyarakat sekitar eks gang Dolly. Sehingga, Pemko Surabaya harus memberikan pelatihan dan pembukaan lapangan kerja khusus bagi eks PSK dan eks masyarakat sekitar lokalisasi, jaminan hidup selama masa transisi, pembinaan mental dan spiritual bagi pekerja dan masyarakat, dan perlakuan yang manusiawi terhadap mereka. Juga selalu waspada terhadap potensi kemunculan prostitusi pasca penutupan.
Wajah Baru Dolly Setelah Ditutup
Upaya Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, guna merelokasi gang Dolly kini membuahkan hasil yang positif. Sebab sekarang kawasan Gang Dolly yang dulunya penuh dengan kesan negatif terkait gemerlap hiburan malam kini berhasil diubah menjadi kawasan kampung wisata Dolly. Berbagai wisata dapat dijumpai disini, mulai dari seni mural, tempat untuk bermain, area hijau, produksi oleh-oleh hingga kampung kuliner bisa kita dapati di area eks-lokalisasi tersebut.
Penampakan yang paling menonjol yakni wisma Barbara yang berlokasi di daerah Jarak. Dulunya wisma ini sangat kental dengan nuansa prostitusinya, dimana dulunya tempat ini merupakan “aquarium” tempat para PSK menjajakan diri kepada pelanggan. Namun, sekarang wisma ini telah beralihfungsi menjadi tempat Usaha Kecil Menengah (UKM) yang memproduksi sepatu dan sandal. Eks-wisma Barbara ini juga dijadikan sebagai tempat Broadband Learning Center (BLC) sebagai bentuk sarana pelatihan komputer bagi warga di sekitar. Hal yang menarik lagi, yaitu tempat tersebut juga dijadikan sebagai display hasil kerajinan batik.
Bukan hanya bagian dalamnya saja yang diubah. Namun, bagian luar dari wisma tersebut juga telah berubah total. Tembok disamping wisma sudah dimanfaatkan untuk seni mural. Berbagai mural yang instagrammable menghiasi sederet tembok-tembok disana. Spot ini pas banget bagi kalian yang suka hunting foto-foto ciamik. Tidak hanya di tembok, tetapi seniman mural juga mmenjadikan jalan sebagai salah satu media mereka untuk menggambar.
Kampung Wisata Penuh Cerita, begitu nama yang dipilihkan oleh Risma ketika meresmikan kampung yang dulu penuh dengan cerita kelamnya. Terciptanya wajah baru di Dolly sekarang bukan hanya peran dari pihak Pemkot Surabaya saja, namun dibalik itu juga terdapat campur tangan dari beberapa komunitas anak muda, seperti Gerakan Melukis Harapan (GMH) dan Surabaya Creative Network (SCN). GMH sendiri telah melakukan kegiatannya jauh sebelum penutupan lokalisasi Dolly, lalu GMH berkolaborasi dengan SCN yang kemudian mereka beruapaya untuk mengubah Dolly menjadi sebuah kawasan wisata baru di Surabaya. Ide tersebut kemudian disambut baik oleh Pemkot Surabaya karena dianggap sejalan dengan rencana Pemkot sendiri. Maka, hadirlah Kampung Wisata Dolly yang sekarang ini.
Telah dikatakan di atas bahwa masyarakat di area Dolly juga membuka sebuah UKM yang menawarkan segala barang yang berhasil mereka produksi, salah satunya yakni kripik Samijali Balado. Hasil dari UKM itu tidak hanya berupa sepatu maupun sandal. Namun, mereka juga memproduksi jajanan yang cocok dijadikan sebagai oleh-oleh. Seain itu, mereka juga membuka usaha rumput laut.
Atiek Triningsih, salah seorang yang pernah menjajakan pakaian jadi kepada para PSK di kawasan Dolly. Saat Dolly masih menjadi area lokalisasi prostitusi, tidak sulit bagi Atiek untuk memperoleh penghasilan 50-100 ribu rupiah tiap harinya dengan memasarkan dagangannya. Namun, setelah adanya kebijakan dari Pemkot terkait penutupan kawasan tersebut tentu banyak yang berubah. Salah satunya yakni banyak warga yang kehilangan sumber pencahariannya. Hal itulah yang membuat beberapa kalangan merasa dirugikan dengan penutupan tersebut sehingga melakukan berbagai bentuk protes kepada Pemkot Surabaya. Namun, hal itu tidak justru tidak berlaku bagi Atiek, karena baginya niat yang besar untuk melakukan usaha dan keingingan untuk mengubah lingkungannya lebih baik membuat dirinya mengesampingkan persoalan hilangnya pasar untuk dagangannya. Hal itu juga yang membuat dirinya dapat menerima kebijakan Pemkota Surabaya dengan adanya pelatihan.
Program pelatihan bagi warga yang terdampak tersebut merupakan bagian dari upaya Pemkot Surabaya yang bekerjasama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) terkait pemulihan ekonomi di kawasan Dolly pasca penutupannya.
Selain Atiek, juga ada Siti Huraira Burhanch, pendiri sekaligus Creative Director Huraira Leather Bag, yang merupakan brand dari produk tas kulit yang eksistensinya telah diakui di dalam hingga luar negeri. Selanjutnya ada pula, Miming Merina yang kini menekuni bisnis makanan dan minuman kemasan serta menampung hasil produksi dari UKM, produk-produk Miming ini telah dikirim hingga ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Bukan hanya dalam bidang itu saja, Miming pun bergelut dalam bidang handicraft dan karya dari teman-teman di UKMnya telah dipasarkan secara daring atau dalam jaringan maupun luar jaringan/luring melalui pameran-pameran.
C. PENGAJARAN dan INSPIRASI TOKOH HEBAT
1. Dr. H. A. Sunarto AS, MEI selaku Doktor Prostitusi / IDEAL – MUI Jawa Timur.
![]() |
| Bapak sunarto memakai jas hijau yang diberi cindera mata oleh salah seorang amahasiswa UINSA |
Pak Sunarto adalah Dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi di UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau juga sama seperti Ustad Petruk yang merupakan orang asli Dolly. Akan tetapi beliau tidak me uterus menerus hidup di daerah yang rusak seperti itu, lalu beliau memutuskan untuk keluar di daerah tersebut dan mencari ilmu di Pondok Pesantren. Merurut beliau, dakwah yang dilakukan oleh individu dinilai tidak efektif. Maka dari itu Beliau dan narasumber berkeinginan untuk merubah yang awalnya Dolly adalah tempat kemungkaran dan kemaksiatan menjadi tempat yang penuh dengan kebajikan. Sehingga Dolly dapat menjadi daerah yang jauh lebih baik daripada yang sebelumnya.
Pada tahun 2002-2010 dakwah dilakukan secara kelembagaan melalui FORKEMAS. Dahulu, ceramah dilakukan di balai RW. Kemudian berganti tempat. Ceramah dilakukan di sebuah tempat khusus yang berisi ribuan mucikari. Disitulah para mucikari dibina dan mindsetnya dirubah melalui spiritual dan mental. Dakwah tersebut dilakukan secara istiqomah agar memperoleh hasil yang maksimal dan sesuai dengan apa yang diinginkan.
Metode ceramah yang digunakan adalah metode:
1. Persuasif, yaitu mengajak yang berarti mengajak wanita penghibur di gang Dolly khusunya, untuk berbuat baik dan bertobat kepada Allah.
2. Integratif, yaitu sifatnya menyeluruh. Metode ini, wanita penghibur diajak untuk berdzikir, shalat tahajjud, dan ibadah lainnya. Tidak semua wanita penghibur dapat bertobat sepenuhnya. Hanya ada 27 orang saja dari ratusan wanita dalam metode ini yang benar – benar bertaubat.
3. Sulutif, yaitu metode yang digunakan untuk memberikan solusi agar wanita penghibur dapat meninggalkan dan tidak lagi kembali pada pekerjaanya yang kelam.
2. KH. Drs. Khoiron Syuaib selaku Kiai Prostitusi / IDEAL MUI Jatim
![]() |
| Khoirulon Syuaib menggunakan baju putih sedang menerima cindera mata, oleh perwakilam salah seorang mahasiswa UINSA |
Nama lengkap kyai prostitusi ini adalah muhammad khoirin, ia adalah putra dari pasangan bpak h. Syu’aib bin Kiai ‘Asim, dan Ibu Muntayyah binti Kiai Mu’assan. Ia lahir di surabaya, pada tanggal 17 Agustus 1959. Ia terlahir di tengah-tengah “ dunia hitam ” yaitu dilingkungan prostitusi, di kelurahan Dupak Bangunsari kota surabaya. Ayahnya di surabaya merupakan seorang pendatang yang berasal dari desa karangturi, kecamatan Glagah, Kabupaten lamongan. Sedangkan ibunya berasal dari desa tanggul rejo Pendidikan kh khoiron syu’aib, beliau alumni MI Sabilal Muttaqin Surabaya, Mts Ponpes Tebuireng Jombang, MA Ponpes Tebuireng Jombang, Sarjana Muda (BA) IKHA Jombang , Sarjana lengkap (DRS) IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Kehidupan kh. Khoiron dilokalisasi surabaya khsusnya lokalisasi dupak bangunsari sehari-harinya akrab dengan para WTS dn Mucikari. Ia sangat mengetahu bagaimana relung hati paraa WTS dan Mucikari , karena beliau tinggal bersama se kelurahan dengan para Wts dan Mucikari,
Unsur – unsur yang ada di lokalisasi dakwah adalah sebagai berikut.
1. Pekerja Seks Komersial (PSK) atau istilah pelacur menjadi pekerja seks.
2. Muncikari, yaitu orang yang berperan sebagai, perantara, atau pemilik PSK.
3. Tokoh-tokoh masyarakat
4. Masyarakat, yang berada di lokalisasi. Misalnya: tukang service, loundry, tukang jahit, dan lain sebagainya.
Selain itu, upaya – upaya yang dapat dilakukan untuk memberikan kesadaran terhadap PSK dapatberupa memberikan pelatihan keterampilan sesuai bakat dan minat yang dimiliki oleh mucikari dan WTS. Jika mereka mempunyai bakat keterampilan menjahit, maka diberi pelatihan menjahit. Jika mempunyai bakat di Salon, maka diberi pelatihan tentang tata rias. Serta bakat keterampilan lain yang dimiliki oleh mucikari dan WTS. Hal itu dilakukan agar mereka berkeinginan untuk alih profesi dan alih fungsi.
3. H. Gatot Subiantoro selaku mantan preman / IDEAL MUI
![]() |
| H. Gatot sharing riwayat hidupnya semasa menjadi preman kepada mahasiswa UINSA |
Mantan preman. Namanya hampir diseluruh wilayah Jawa Timur sebagai salah satu pelopor gerakan pemberantasan prostitusi dan sebagai HUMAS IDEAL MUI JATIM. Sebelumnya ia mengalami masa lalu kelam sebagai preman. Ia mengaku awal kepremananya diawali dengan salah pergaulan di masa remaja. Ditambah dengan keputusasaan mencari pekerjaan, dia akhirnya terjerumus kedalam dunia yang membuatnya merasakan kenikmatan dan ketidaktenangan batinxdalam waktu yang bersamaan.
Pada masa mengarungi menjadi preman, hampir preman diwilayah lokalisasi, terutama di Surabaya, mengenalnya. Enam lokalisasi di Surabaya pernah ia jadikan tempat mata pencahariaan. Awalnya pada tahun 1982 dia mengikuti ajakan teman untuk menjaga keamanan lokalisasi – lokalisasi. Lambat laun dia menjadipreman yang disegani.
Takdir membawanya ke lingkungan Dupak Bangunasri, teman-teman pak Ustadz Khoiron tinggal dab berdakwah. Di wilayah ini, Pak Gatot bekerja sebagai keamanan di wisma paling ujung di gang yang sama dengan Pondok Pesantren Roudlotul Khoir. Setelah beberapa lama, ia kemudian menerima tawaran untuk bekerja sebagai bos karaoke milik seorang i vestor di lokalisasi tersebut. Setiap hari pekerjaannya mabuk minuman keras dan bertengkar.
Setiap kali berjumpa Ustadz Khoiron, tatapan permusuhan selalu ia tujukan kepadanya. Namun, sang ustadz tak pernah seklaipun membalas dengan sikap yang sama. Ustadz Khoiron justru mrnunjukkan sikap yang berlawanan 180 derajat. Sang ustadz memperlakukannya dengan baik, membantunya beridiri ketika ia terjatuh mabuk minuman keras, memberinya berkat dan pengajian, dan menjadikannya panitia peringatan hari kemerdekaan.
4. H. Sunarto Sholahudin selaku Owner PT.
![]() |
| Add caption |
Berkah Aneka Laut yang berperan sebagai penyedia logistik dalam penutupan gang dolly.
Pak Sunarto merupakan anak dari penjual es grojong dan roti yang sangat gigih dalam meraih kesuksesannya. Beliau hidup di sebuah desa kecil yaitu di Desa Lampah, Kecamatan Menganti, Gresik.
Dahulu Pak Sunarto pada kelas 5-6 berjualan gorengan dengan berkeliling desa dengan ikhlas dan rendah diri. Dengan melihat keadaan ekonominya yang sempit dan pekerjaan ayah dan ibunya, pak Sunarto mempunyai tekad yang kuat dengan mengadu nasib untuk merantau di Kota Surabaya. Ia bertekad untuk menjadi pengusaha sukses.
Di Kota Surabaya, beliau bekerja sebagai pramusaji di sebuah rumah makan. Saat ia menyajikan makanan untuk para pengunjung, ia berfikir untuk bercita – cita meraih mimpi besarnya “Saya harus sukses seperti mereka, suatu saat saya akan dilayani seperti mereka” ungkapnya dalam hati. Kemudian, dari pelayan rumah makan ia bekerja pada pamannya sebagai pekerja yang membersihkan sirip ikan hiu. Dalam setiap bekerja ia memiliki prinsip “Halal dan Kejujuran”. Selama ini, Pak Sunarto selalu mengiringi perjalanan hidupnya dengan semangat, kerja keras, serta berserah diri kepada Allah.
5. Ustad Petruk selaku Ta’mir Masjid At - Taubah
![]() |
| Abah Petruk memakai batik, sedang menerima buku dari Prof. M. Ali Aziz |
Abah Petruk dahulu pada awalnya mengobati orang yang sakit yaitu dengan melakukan penyembuhan medis. Mulai dari itu Abah Petruk dijuluki oleh masyarakat dengan sebutan “Kyai Sembur”. Abah Petruk dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tuanya di daerah yang penuh dengan kemaksiatan. memang penduduk asli Dolly. Tentu saja Abah Petruk mengerti tentang hal-hal yang ada di Dolly. Pada tahun 2008 sebelum lokalisasi di Dolly ditutup resmi oleh Wali Kota, Dolly masih mempunyai wanita penghibur .
Dengan adanya lokalisasi di daerahnya, Ustad Petruk bertekad untuk membasmi tuntas kemaksiatan dengan cara membaca Shalawat Nariyah 4000 kali dengan istiqamah dan beliau tidak membaca sendiri melainkan dibantu oleh masyarakat sekitar. Beliau dan masyarakat membaca Shalawat Nariyah tidak serta-merta bershalawat akan tetapi Beliau meminta kepada Allah Swt. Agar nantinya prostitusi tidak mengakar di daerah tersebut. Setelah selama 24 tahun Abah Petruk berikhtiar, akhirnya pada bulan Juni 2014 Wali Kota Tri Risma Harini resmi menutup lokalisasi eks Dolly.
Kesan dan Pesan Selama Penelitian
Selama penulis melakukan study lapangan di Dolly pada Sabtu, (13/04/2019) penulis mendapat banyak pengalaman berharga, diantaranya :
Berdakwah tidak hanya dengan lisan atau ucapan, bisa dilakukan dengan tindakan halus, sehingga dapat menarik mitra dakwah untuk bertaubat. Seperti halnya Ustadz Choiron yang secara tidak langsung berdakwah kepada H. Gatot yang mantan preman dengan perlakuan halus sehingga H. Gatot dapat luluh dengan dakwah Ustadz Choiron sehingga beliau bertaubat.
Pelajaran yang sangat berharga juga penulis ambil dari H. Sunarto Sholahudin, bahwa hidup itu merupakan perjalan panjang dan terjal, jadi jika menginginkan kesuksesan di dunia harus ada pengorbanan dan kerja keras.
“Man Jadda Wajada”
“Jika kamu gagal, jangan berputus asa tapi bangkitlah dan bermunajat kepada Allah. Pergilah ke masjid pasti Allah memberikan jalan kesuksesan”. - H. Sunarto Sholahudin-
Pelajaran dan inspirasi selanjutnya dari KH. Khoiron Syu’aib dimana sifat dan karakter beliau yang rendah hati, selalu menjadi inspirasi dan senantiasa memberikan dukungan kepada mucikari, PSK terutama kepada orang yang mau bertaubat. Beliau juga menyampaikan pesan dakwahnya kepada mitra dakwah dengan kelembutan sehingga pesan dakwahnya mudah diterima.
Saya juga terkesan dengan Ustadz Sunarto atau Abah Petruk dimana beliau lahir tinggal di lingkungan yang penuh kemaksiatan, namun beliau tetap menjadi oranng taat, dan tidak ikut ikutan mereka seperti halnya mucikari dan pelanggan PSK. Bahkan beliu rela membaca sholawat nariyah sebanyak 4000 kali dengan istoqomah untuk mendoakan lingkungan dan oranng sekitar nya untuk bertaubat.
Terakhir saya terkesan dengan beliau, H. Gatot yang dulu beliau merupakan mantan preman, namun kini beliau menjadi salah satu tokoh yang berperan penting dalam penutupan lokalisasi Gang Dolly. Dan kemaun beliau untuk menjdi pribadi lebih baik perlu dipresiasi. Karena lebih baik menjadi mantan preman daripada menjadi mantan ustadz. Kalimat inspiratif yang dapat penulis kutip dari perkatan Ustdz Gatot adalah “Kekayaan tidak ada habisny, kemiskinan tidak ada habisnya, akan tetapi umur ada habisnya”.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar